“Ayo, yang belum menuliskan tema
tulisan, segera, ya!”
“Pilihan sama dengan yang lain,
boleh, Ustazah?” tanya salah satu murid.
“Boleh, satu tema bisa untuk 3 anak,
ya!”
Perintah untuk memilih tema tulisan sudah
saya sampaikan mulai awal semester 2. Pada kenyataannya, hanya beberapa anak yang menuliskan tema pilihan. Bahkan, sampai menjelang liburan bulan Ramadan,
belum semua anak menulis pilihan tema. Saya berharap, kalau sudah jelas tema
tulisan yang dipilih, mereka bisa segera menulis di sela-sela ibadah Ramadan.
Apalagi, liburan Idul fitri biasanya lama.
Tulisan apakah itu?
Setiap akhir tahun ajaran di SMP Al Irsyad
selalu diwarnai dengan kesibukan wali kelas berbelanja. Berbelanja apa? Suvenir
untuk dibagikan kepada semua anak di kelasnya. Kadang berupa buku tulis,
bolpoin, tempat pensil, atau totebag, kemudian berkembang ada bantal
bergambar foto anak sekelas, tempat minum, bahkan buket jajanan.
Entah sejak kapan budaya ini terbentuk,
tetapi semua senang. Guru yang menyiapkan senang apalagi anak-anak yang
menerima. Tak jarang suvenir disiapkan dalam beberapa kategori. Ada suvenir
untuk semua anak, ada yang untuk pengurus kelas, atau untuk anak yang tidak
pernah absen, anak paling rajin belajar, dan lain-lain. Intinya semua anak
pasti mendapatkan kenang-kenangan dari wali kelas.
Benarkah dari wali kelas? Sebenarnya
bukan, wali kelas hanya mengadakan atau hanya membelikan. Uangnya jelas dari
sekolah dan uang itu dari orang tua murid juga. Jadi anak-anak aslinya
mendapatkan hadiah dari orang tua, hanya lewat wali kelas. Nah, sampailah pada
suatu hari saya sebagai wali kelas terpikir untuk membuat buku kenangan sebagai
salah satu suvenir kelas.
Bermula dari saya dimintai tolong seorang
teman pegiat literasi dari luar kota. Dia meminta saya menyunting atau mengedit
tulisan murid-muridnya tentang pengalaman berkemah. Namun, sangat disayangkan
bahwa tulisan kelas 6 SD yang satu kelas itu, isinya seragam semua, maksud saya
hampir seragam. Pengalaman mereka dari berangkat sampai pulang kemah. Sebenarnya
masih ada perbedaan, tetapi hanya sedikit.
Dari pengalaman menyunting itulah saya
mempunyai ide untuk membuat buku kenangan. Buku yang berisi cerita pengalaman
paling berkesan anak-anak selama 1 tahun di SMP Al Irsyad. Dengan catatan, anak-anak
akan saya bagi dalam beberapa tema supaya cerita tidak monoton. Agak memaksa, tetapi demi kebaikan dan agar
buku kenangan nanti bisa dinikmati oleh pembaca.
Mulailah pendataan tema pilihan. Pada selembar
kertas saya menuliskan tema-tema kegiatan sekolah, seperti: MPLS, Big Assembly,
Lomba 17-an, Milad Al Irsyad, ujian semester, Out door, Outbond, Bina ruhiyah,
kemah pramuka/Supercamp, dan lain-lain. Satu tema bisa untuk tiga anak. Daftar di kertas yang ditempelkan belum juga
terisi, daftar pilihan tema pindah ke grup WA. Tentunya dengan harapan semua
anak segera menentukan pilihan. Selanjutnya, saya minta mereka segera merangkai
kalimat menjadi karangan yang siap dikumpulkan.
“Ustazah, saya memilih kemah, tetapi belum
pelaksanaan, bagaimana?”
“Khusus yang memilih kemah, menulis
terakhiran, ya!”
Untuk memastikan bahwa mereka asli membuat tulisan sendiri tanpa bantuan apa pun dan siapa pun, dalam selembar kertas setiap anak menuliskan surat pernyataan. Surat pernyataan yang walaupun hanya tulisan tangan, mereka menyatakan bahwa tulisan mereka asli. Setelah ditandatangani, pernyataan itu saya simpan. Untuk kelas putri Alhamdulillah aman. Namun, di kelas putra sempat saya menerima tulisan hasil karya chat gpt. Anehnya, si pemilik terlalu polos salin tempel tulisannya. Segera dia saya minta untuk membuat ulang.
Empat tahun sudah buku kenangan menjadi
suvenir pelengkap saat kenaikan siswa kelas 7. Yang pertama dari kelas 7B (Nai’ilah)
tahun ajaran 2022/2023. Pada tahun ini saya didampingi Ustazah Vitan sebagai
asisten wali kelas. Saat itu saya baru saja mengenal cara membuat barkode dari
Ustazah Vitan. Akhirnya, dengan semangat video-video kegiatan 7B dibuatkan
barkode dan menjadi lampiran buku.
Untuk pertama kali, saya memandangi buku
kenangan yang sudah jadi itu sampai tidak ada puasnya. Satu buku kenangan,
tetapi mendapatkan bonus video kegiatan lomba tari saman, video gabungan foto
lebaran bersama keluarga, kegiatan outdoor, dan outbond.
Keunikan dari buku kenangan 7B ini
dibanding suvenir lainnya adalah buku ini digandakan murni dari uang anak-anak.
Mereka mempunyai program usaha dana, bukan kas kelas yang tiap anak wajib menyerahkan
ke bendahara kelas per pekan atau per bulan. Untuk membantu teman-teman
sekelas yang memerlukan tambahan asupan sepulang sekolah, mereka berjualan di
kelas. Jelas kantin sekolah sudah tutup dan waktu itu belum ada Indomaret di
depan Bu Pur. Keuntungan terkumpul beberapa ratus ribu rupiah, Alhamdulillah
untuk mendanai buku kenangan tersebut.
Menjelang hari pembagian rapor kelas 7B,
setelah pengolahan nilai tuntas, naskah cerita pengalaman siswa segera saya
tuntaskan. Hanya dalam 3 malam karya mereka menjadi buku dan siap cetak. Judul
buku pun spontan diambil dari yel kelas yang selalu diteriakkan tiap saat, Semangat
Berkreasi Bersama. Adapun untuk kover depan dan belakang cukup
diambilkan dari beberapa foto bersama kelas 7B.
Dengan bangga dan haru, buku karya
anak-anak itu saya serahkan kepada orangtua siswa bersamaan buku rapor dan
suvenir lainnya pada Jumat dan Sabtu, 23 – 24 Juni 2023.
Berikut salah satu komentar orang tua
siswa yang sudah membaca buku tersebut.
“Semua
cerita menarik. Saya suka, semoga ananda termotivasi untuk menulis.
Alhamdulillah saya sudah baca, Usth. Baru kali ini menerima kenangan sebuah
buku yang ceritanya dari masing-masing siswi dan bener-bener ini sebuah
kenangan yang spesial.” (Ibunda Zya)
Tahun kedua pembuatan buku kenangan,
kodarullah saya di kelas putra, yaitu 7G (Migdad bin Amr), tahun ajaran
2023/2024. Saya didampingi Ustaz Dzul Anhar Ibrahim. Dari awal tahun saya sudah berniat
ingin mengulang tahun lalu di 7B, membuat buku kenangan. Walaupun awalnya agak
ragu, Alhamdulillah terwujud dengan judul buku Kumpulan Cerita Pengalaman: Seru-seruan
Bersama 7G. Sebenarnya hanya tiga malam menyunting dan membuat kovernya,
tetapi yang lama itu menunggu semua siswa mengumpulkan naskah ceritanya. Belum
lagi harus menunggu foto dan bionarasi.
Seperti halnya tahun lalu, Alhamdulillah buku kenangan 7G ini
mendapatkan tanggapan bagus dari para siswa dan orang tua. “Isi bukunya bagus,
ceritanya menarik dan lucu-lucu,” kata Satria. “Jadi kangen dengan 7G,” tambah
Akbar.
Bagi saya sendiri, jelas itu buku kenangan sebagai suvenir
yang awet, awet wujudnya dan awet kenangannya, apalagi saya buatkan jug buku
elektroniknya, lebih fleksibel untuk saya bagikan. Bisa dibaca sewaktu-waktu
dan insyaallah menginspirasi. Meskipun hanya difoto kopi, wujudnya sudah berupa
buku. Oya, Angkatan ini 7G memiliki yel kelas; 7G… Semangat, Joss!
Simpel, kan?
Alhamdulillah masuk tahun ketiga pembuatan buku kenangan.
Tahun ini saya bersama Ustaz Andi di 7G (At Tirmizi) tahun ajaran 2024/2025. Saya
mempercayakan pembuatan kover kepada Naveed. Adapun judul buku angkatan ini
adalah: Langkah Pertama, Kenangan Selamanya. Sedangkan yel kelas
berbunyi: 7G, Sukses Allahu Akbar! Rupanya ini sama simpelnya.
Tahun ajaran 2025/2026 menjadi tahun
keempat saya 'ngoyo' memaksakan diri mengumpulkan pengalaman seru
anak-anak kelas 7D (Asy Syaima binti Harits) menjadi buku kenangan. Buku ini
menjadi suvenir kebanggaan dan kekhasan kelas saya. Pada tahun ini,
Ustazah Ella yang menjadi asisten saya.
Anehnya, saya mengulangi kesalahan yang sama, terlalu berani memulai mengerjakan di ujung waktu. Sebenarnya beberapa anak sudah mulai mengumpulkan naskah beberapa pekan sebelumnya, bahkan yang 2 bulan lebih awal juga ada. Kover yang Naura Atifa buat juga sudah selesai.
Dengan mendahulukan pekerjaan yang
lebih mendesak, saya menunda penyuntingan naskah. Kadang beralasan menunggu
semua terkumpul. Namanya anak-anak, selalu saja ada yang terlambat dan menunggu
dikejar-kejar baru mengirimkan. Sampai Rabu malam masih ada anak yang baru
mengumpulkan. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin bila ditinggal.
Tepat 3 malam terakhir mau rapotan, baru
saya garap. Endingnya, penyuntingan kurang maksimal. Bahkan hari Kamis sore,
yang lain sudah menata rapor, saya masih sibuk membuat daftar isi dan lay out
buku. Tidak lupa memasukkan link YouTube kegiatan anak-anak ke barkode yang
sebelumnya sudah dibuatkan Ustazah Ella. Tepat 17.00 naskah baru saya kirim ke
foto kopian.
“Ustazah, kita foto di studio, yuk!” ajak
anak-anak 7D pada pekan-pekan terakhir.
“Nggak usah,” jawab saya. Ya, demi proyek
ini, saya tidak menerima ajakan mereka. Selain jumlah siswa hari terakhiran
sudah tidak lengkap, saya terpikir kas kelas untuk membuat buku kenangan ini.
Khawatir tidak mencukupi.
Alhamdulillah Jumat pagi saya ambil dari
foto kopian dan langsung dibagikan bersamaan rapor. Tanggapan positif dari para
orang tua sangat melegakan.
“Saya sudah baca buku kenangan 7D.
Masyaallah, terharu. Buku ini akan kami simpan.” (Ibunda Farahdilla).
Semoga benar, buku ini bisa menjadi tanda
mata yang langgeng dan menginspirasi.
Dari keempat asisten wali kelas, semua
ikut memberikan epilog atau penutup dari buku kenangan ini. Adapun prolognya
dari saya, wali kelas, sebagai pengantar buku.
Saya merasakan kenikmatan tersendiri
ketika menyunting tulisan mereka. Senyum-senyum, ketawa, bahkan perasaan haru
muncul saat menyunting tulisan mereka. Ada kenangan yang terbangun selama
setahun bersama mereka. Saya yakin anak-anak pun sedang belajar mengenang
perjalanan mereka dengan tulisannya masing-masing. Semoga beberapa tahun
kemudian buku itu menjadi kenangan yang sangat berharga untuk mereka.
Bila proyek ini dipandang baik dan akan ditiru,
hendaklah satu pekan sebelum raporan sudah diselesaikan, buku sudah jadi, agar
tidak menguras energi. Khawatir saat pembagian rapor kita tidak bisa tampil
fresh di depan orang tua. Tidak harus dari wali kelas yang guru Bahasa
Indonesia, insyaallah semua guru bisa. Penyuntingan fokus pada keterbacaan
(maksud kalimat mudah dipahami), perbaikan huruf kapital, dan tanda baca.
Adapun layout, fokus pada kerapian saja. Hanya foto kopi biasa, naskah sudah bisa
disulap menjadi buku. Untuk kover, kita bisa memberi kesempatan anak dalam
kelas untuk membuatnya, tidak mengapa dari canva.
Bila kurang yakin menyunting sendiri, wali
kelas bisa minta tolong orang lain atau anak di kelasnya atas rekomendasi guru
Bahasa Indonesia. Ini juga salah satu peran wali kelas, yaitu menemukan potensi
anak dan memberi kesempatan ia berkarya, betul?
Saya termotivasi untuk berbagi program
khas kelas dalam tulisan ini karena mendengar pesan Kepala Sekolah, Ustaz
Mustamim pada rapat pekanan general, 18 Juli 2026:
“Alhamdulillah Ustazah Mien sudah 4 kali
membuat suvenir buku kenangan kelas. Ini bisa ditiru kelas lain.”
Silakan dicoba. Bismillah.*
Contoh buku kenangan 4 angkatanSumintarsih,
M.Pd.
Mengajar
di SMP Al Irsyad sejak tahun 2000. Tinggal di Perumahan Griya Satria
Mandalatama, Purwokerto. Ia senang menulis dan mengajak orang lain menulis.
Alhamdulillah sudah berkarya dalam 9 buku solo dan 55 buku antologi.
Medsos:
IG
Sumintarsih_24

.png)


Posting Komentar