Tahun 2026 menjadi tahun keempat saya 'ngoyo' memaksakan diri mengumpulkan pengalaman seru anak-anak menjadi buku kenangan. Buku ini menjadi suvenir kebanggaan kelas saya.
Anehnya, saya mengulangi kesalahan yang sama dengan tshin-tahun lalu. Terlalu berani memulai mengerjakan di ujung waktu. Sebenarnya beberapa anak sudah mulai mengumpulkan naskah beberapa pekan lalu, bahkan yang 2 bulan lalu juga ada. Kover yang dibuat anak juga sudah selesai pekan lalu.
Dengan mendahulukan pekerjaan lainnya, saya menunda penyuntingan naskah. Kadang beralasan menunggu semua terkumpul. Namanya anak-anak, selalu saja ada yang terlambat dan menunggu dikejar-kejar baru mengirimkan. Sampai Rabu malam baru mengumpulkan. Bagaimana lagi. Tidak mungkin bila ditinggal.
Tepat 3 malam terakhir mau rapotan, baru saya garap. Endingnya, penyuntingan kurang maksimal. Bahkan hari Kamis sore, yang lain sudah menata rapor, saya masih sibuk membuat daftar isi dan lay out buku. Tidak lupa memasukkan link YouTube kegiatan anak-anak ke barkode. Tepat 17.00 naskah baru saya kirim ke foto kopian.
Demi proyek ini, saya tidak menerima ajakan anak-anak untuk foto di studio. Selain jumlah siswa hari terakhiran sudah tidak lengkap, saya terpikir kas kelas untuk membuat buku kenangan ini. Khawatir tidak mencukupi.
Alhamdulillah Jumat pagi saya ambil dan langsung dibagikan bersamaan rapor. Tanggapan positif dari para orang tua.
Semoga benar, buku ini bisa menjadi tanda mata yang awet dan menginspirasi. Yang jelas, kenangan tiap anak sudah terekam saay saya menyunting tulisan mereka.
Satu hal yang menarik, cerita kegiatan kelas 7 ke D'Las saat sekolah menjadi tuan rumah MAPSI. Kami menilai kegiatan itu kurang sukses karena dari awal sampai pulang ditemani hujan bahkan sempat deras. Keindahan pemandangan tertutup kabut, sama sekali tidak terbuka. Namun, justru menjadi kenangan terindah dan terbukti banyak yang menuliskan tentang itu. Terutama saat mereka hujan-hujanan. Allahu Akbar.
Sumintarsih
Purwokerto, 20 Juni 2026


Posting Komentar